Friday, 8 July 2011

Hanya Allah

Subject: yang ada hanyalah Allah

Assalamu'alaikum wr.wb.
teman-teman tentu pernah menbaca buku Harun Yahya yang berjudul
"Mengenal Allah Lewat Akal" bukan? Jika belum, berikut ini salah satu bagian
dari bab ke-10:Pemahaman Materi yang tidak Materialis. Bagian yang saya kutip
berikut menjelaskan bahwa Allah yang telah menciptkan kita. Semoga bermanfaat.


" Semua informasi yang telah kita miliki tentang dunia tempat kita hidup
disampaikan kepada kita melalui panca indera kita.
Kita tidak pernah berfikir bahwa alam luar dapat berupa apa saja yang lain dari
yang disajikan oleh pancaindera kita karena kita hanya tergantung pada panca
indera itu sejak lahir.

Riset modern diberbagai bidang ilmu pengetahuan menunjukkan pemahaman yang
sangat berbeda dan menimbulkan keraguan yang sangat serius tentang pencaindera
kita dan dunia yang kita alami dengan panca indera itu.

Titik awal pendekatan ini ialah bahwa pemikiran tentang "dunia luar" yang
terbentuk dalam otak kita hanya merupakan respon yang diciptakan dalam otak
dengan sinyal-sinyal kelistrikan. Apel yang berwarna merah, kayu yang keras,
dan-demikian juga-ibu,ayah, keluarga Anda serta apa saja yang anda miliki,
rumah, pekerjaan, dan baris-baris buku ini, hanya terdiri atas sinyal-sinyal
listrik.

Ketika kita melihat warna, yang sampai ke mata kita hanyalah sinyal-sinyal
listrik dari panjang gelombang yang berlainan. Otak kita mengubah bentuk
sinyal-sinyal ini ke dalam warna. Tidak ada warna di "alam luar". Juga tidak
ada apel yang berwarna merah, ataupun langit yang berwarna biru, ataupun
pohon yang berwarna hijau. Benda-benda itu begitu karena kita mencerapnya
demikian."Dunia luar" sepenuhnya bergantung pada pihak penerima.....cerapan
inilah yang kita lihat.

Kita tidak pernah dapat membuktikan bahwa persepsi yang kita amaui dalam otak
kitá memiliki kïrelasi material. Persepsi-persepsi seperti itu secara logis
dapat berasaì dari sumber "semu". Misalnya, ketika kita menekan meja dengan
jari kita, dihásilkan acakan listrik elektron dan proton pada ujung jari kita,
menurut ilmu fisika modern, di dekat elektron dan proton pada meja. Jika ada
pengacakan sedemikian ini di ujung jari kita dengan cara apa saja, kita mesti
mempunyai sensasi "meskipun tidak ada meja".

Sekarang, berpikirlah tentang hal ini: buku di tangan anda, kamar anda;
pendek kata semua kesan di depan Anda terlihat di dalam otak.
Apakah atom-atom yang melihat kesan-kesan ini?
Atom yang buta, lumpuh, dan tidak sadar?
Mengapa sebagian atom mempunyai sifat ini, sedangkan yang lain tidak?
Apakah tindakan kita berfikir, memahami, mengingat, senang, sedih, dan segala
tindakan lain terdiri atas reaksi-reaksi elektrokimia antara atom-atom ini?

...............

Kita tahu bahwa tidak masuk akal mencari kehendak di dalam atom-atom.
Otak adalah kumpulan molekul protein dan lipida, terbentuk dari sel-sel syaraf
yang disebut neuron. Di dalam sepotong daging itu, tidak ada apapun yang
mengamati gambaran, yang merupakan kesadaran, atau yang menciptakan sesuatu
yang kita sebut "saya sendiri". Jelaslah bahwa being yang melihat, mendengar,
dan merasakan adalah being yang berbahan unggul. Being ini hidup dan juga
bukan materi atau gambaran materi. Being ini ada hubungannya dengan persepsi-
persepsi di depannya dengan menggunakan gambaran tubuh kita.
Being ini ialah "roh"
Kumpulan cerapan yang kita sebut "alam materi" ialah suatu mimpi yang diamati
oleh roh ini. Karena tubuh yang kita miliki dan dunia materi yang kita lihat
dalam mimpi kita tidak memiliki realitas, alam semesta yang kita huni dan tubuh
yang kita miliki juga tidak memiliki relitas material
Yang keberadaannya nyata ialah roh. Zat hanya terdiri atas cerapan-cerapan
yang dipandang oleh jiwa. Makhlik yang cerdas yang menulis dan membaca buku
ini masing-masing bukan lompatan atom dan molekul serta reaksi kimia antara
lompatan atom dan molekul, melainkan "roh".
Semua kenyataan ini membawa kita langsung ke satu pertanyaan yang sangat
penting. Jika sesuatu yang kita kenal sebagai alam materi hanya terdiri atas
persepsi yang dilihat oleh roh kita, lantas apa saja sumber persepsi-persepsi
ini?

Dalam menjawab pertanyaan ini, kita harus memperhatikan hal berikut ini.
Zat tidak mempunyai keberadaan pengatur-diri dengan sendirinya. Karena
merupakan persepsi, zat adalah sesuatu yang "semu". Dengan kata lain, persepsi
ini pasti disebabkan oleh kekuatan lain, yang berarti pasti diciptakan.
Lagi pula, penciptaan ini harus kontinu. Jika tidak ada penciptaan yang kontinu
dan konsisten, yang kita sebut zat itu akan lenyap dan hilang. Ini bisa
disamakan dengan televisi yang gambarnya ditampilkan selama sinyalnya terus
disiarkan. Jadi, siapa yang membuat roh kita melihat bulan, bumi, tumbuhan,
manusia, tubuh kita, dan segala sat lain yang kita ketahui?
Hal ini merupakan bukti bahwa ada Pencipta atau Tuhan, Yang menciptakan
seluruh semesta materi, yaitu sekumpulan persepsi, dan melanjutkan penciptaannya
dengan tiada henti
Pencipta ini memperkenalkan Dirinya sendiri kepada kita. Ia telah menciptakan
suatu kitab dan melalui kitab ini, Dia telah menjelaskan kepada kita tentang
Dirinya sendiri, alam semesta dan keberadaan kita..
Pencipta ini ialah Allah dan nama kitabNya adalah Al-Quran.


~dianjurkan untuk membaca bukunya :)

Reactions:

0 comments:

Post a Comment

Silahkan Komentarnya Gan ^_^
Jangan SPAM Ya